
Watansoppeng, 11 Februari 2026 — Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 M, Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Al-Imam Hafsh Soppeng kembali menyelenggarakan program pembinaan tahunan bertajuk Daurah Imam Tarawih dan Muballigh. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Ar-Rahman sebagai bagian dari upaya mempersiapkan para santri menjadi imam dan dai yang siap terjun langsung ke tengah masyarakat.
Acara pembukaan berlangsung khidmat dan dihadiri oleh unsur pimpinan lembaga, yaitu Kepala Kesetaraan Wustha, Penanggung Jawab Bidang Tahfizh, para pembina, serta tenaga pengajar. Kehadiran mereka menjadi wujud dukungan penuh terhadap pembinaan generasi Qur’ani yang siap mengemban amanah dakwah dengan ilmu, adab, dan keikhlasan.
Bekal Sebelum Mengemban Amanah Umat
Dalam sambutannya, pimpinan pondok menegaskan bahwa kegiatan daurah bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sarana persiapan sebelum para santri memikul amanah besar di tengah umat.
“Kehadiran kalian di sini bukan sekadar mengikuti seremoni rutin tahunan. Daurah ini adalah bekal sebelum kalian memikul amanah besar di tengah umat.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa santri yang mengikuti daurah diproyeksikan menjadi duta Al-Qur’an yang mampu memimpin ibadah sekaligus membimbing masyarakat dengan ilmu dan akhlak.
Dua Prinsip Utama: Khidmat dan Berkah
Tema yang diangkat tahun ini, “Siap Berkhidmat dan Siap Meraih Berkah,” menjadi landasan pembinaan bagi seluruh peserta. Prinsip pertama, Siap Berkhidmat, mengandung makna kesiapan santri untuk menjaga hafalan, memperdalam ilmu, serta hadir di tengah masyarakat dengan sikap tawadhu’.
“Datanglah ke masyarakat sebagai pelayan, bukan sebagai tuan yang ingin dihormati.”
Adapun prinsip kedua, Siap Meraih Berkah, menekankan pentingnya meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT agar setiap ayat yang dibaca menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
“Jangan cari pujian, jangan cari dunia. Carilah ridha Allah agar setiap ayat yang kalian baca menjadi pahala yang mengalir tanpa putus.”
Hakikat Peran Imam dan Muballigh
Dalam arahannya, pimpinan pondok juga menegaskan hakikat peran seorang imam dan muballigh. Menjadi imam Tarawih bukan hanya soal memimpin gerakan shalat, tetapi juga memimpin hati jamaah menuju kekhusyukan.
“Menjadi Imam Tarawih bukan hanya soal memimpin gerakan shalat, tapi tentang membawa hati jamaah menghadap Allah dengan khidmat.”
Demikian pula muballigh, bukan sekadar piawai berbicara, melainkan mampu menyampaikan kebenaran dengan adab dan keteladanan.
“Menjadi Muballigh bukan hanya soal pandai berbicara, tapi tentang menyampaikan kebenaran dengan adab yang luhur.”
Menjaga Nama Baik Almamater
Menutup sambutannya, beliau berpesan agar seluruh santri menjaga nama baik Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Al-Imam Hafsh Soppeng di mana pun mereka ditempatkan selama Ramadhan. Para santri diharapkan menjadi teladan dalam ibadah, akhlak, kedisiplinan, dan interaksi sosial.
Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, kegiatan Daurah Imam & Muballigh Ramadhan 1447 H secara resmi dibuka. Momentum ini menjadi langkah awal perjalanan pengabdian para santri dalam membawa cahaya Al-Qur’an ke tengah masyarakat.
Harapan Besar dari Program Daurah
Melalui kegiatan ini, pondok berharap lahir generasi imam dan muballigh muda yang:
- kuat hafalan Al-Qur’annya,
- matang pemahaman agamanya,
- santun akhlaknya,
- serta siap berdakwah dengan hikmah.
“Selamat belajar, selamat berjuang. Semoga Allah memberkahi langkah kita semua.”
Program ini menjadi bagian dari komitmen Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Al-Imam Hafsh Soppeng dalam mencetak generasi Qur’ani yang siap mengabdi kepada umat dan menebarkan keberkahan di masyarakat.
