SEKILAS INFO
  • 2 tahun yang lalu / Web resmi PPTQ Al Imam Hafsh sebagai Media untuk memudahkan Santri, Orang Tua Santri, dan Asatidz memperoleh Informasi terkini
  • 2 tahun yang lalu / Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pondok Pesantren Tahfizh Al Qur’an Al Imam Hafsh!!!
WAKTU :

AMALAN YANG DI PERBANYAK SAAT WABAH

Terbit 3 Juni 2020 | Oleh : admin | Kategori : Khazanah / Uncategorized
AMALAN YANG DI PERBANYAK SAAT WABAH

pptqimamhafsh.com – Wabah, musibah, penyakit, semua datang dari Allah Subhanahu Wata’ala. Allah adalah pemilik seluruh kerajaan bumi dan langit, termasuk pembuat penyakit. Karena itulah, setiap Allah ciptaan penyakit dan wabah, Allah pasti siapkan obatnya. Tugas kita adalah berkhitiar.

Di bawah ini lima kunci terhindar wabah, termasuk wabah corona.

Sedekah

Untuk pulih dari wabah corona harusnya bukan memborong persediaan makanan untuk antispasi lockdown, hingga persediaan menipis karena serakah. Justru sebaiknya semakin giatlah berbagi karena sedekah itu kata Rasulullah ﷺ dapat menolak bencana wabah. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo).” (Riwayat Imam Thabrani)

Bencana selamanya takkan bisa mendahului sedekah, Rasulullah ﷺ bersabda : “Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah.” (Riwayat Imam Baihaqi).

Sedekah bukan hanya menolak bencana, bahkan ia bisa menjadi benteng dari panasnya Neraka, sebagaimana sabdanya; “Bentengilah diri kalian dari siksa api neraka meskipun dengan separuh buah kurma.” (Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Bahkan sedekah itu dapat meredakan kemarahan Allah, dan mengurangi kesakitan saat sakaratul maut. Sebagaimana disebutkan Dalam buku Fiqh as-Sunnah karangan Sayyid Sabiq, dimana Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Sedekah meredakan kemarahan Allah dan mengurangi kepedihan saat sakratul maut.”

Sedekah bukan hanya menaungi dari penyakit, sedekah bahkan menaungi di hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda; “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (Riwayat Imam Ahmad).

Tenang

Untuk menghadapi wabah corona harusnya bukan panik, tapi tetaplah bersikap tenang karna sikap tenang dan itu sifat orang mukmin sejati. “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48]: 4)

Ketenangan membuat keimanan semakin bertumbuh dan semakin menyempurnakan keteguhan dalam iman .” (Taisir al Karim: 791)

ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Taubah [9]: 26)

Ketenangan selalu melahirkan kemenangan, atas segala musibah dan cobaan.

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al Fath [48]: 18)

Bersikap tenanglah menghadapi musibah wabah ini, dengan banyak berzikir kepada Allah.

Bukankah Allah telah mengatakan dalam Al-Quran,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al Ra’du [13]: 28)

Bersabar
Bersabar selamanya berat, sebagaimana ungkapan seorang penyair Arab,

الصبر مثل اسمه مر مذاقته لكن عواقبه أحلى من العسل

Sabar itu memang seperti namanya (sebuah nama tumbuhan), yang rasanya pahit, Namun hasil dari kesabaran akan lebih manis dari madu.

Tapi seberat apapun sabar ia harus diupayakan sebab ia bukti dari kebenaran iman. Yang paling bersabarlah, yang paling benar imannya.

“Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 177)

Karena sabar itu kata As syaikh ibnul Qayyim rahimahullah; “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Bersabarlah dengan wabah ini, untuk meraih cinta Allah tanpa batas.

وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar.“ (QS. Ali Imran : 146)

Apa bukti kecintaan Allah bagi orang yang senantiasa bersabar? Buktinya adalah anugrah pahala tiada batas.

Shalat

Saat wabah menimpa, harusnya semakin rajin melaksanakan shalat, bukan justru meninggalkannya. Sabar senantiasa disandingkan dengan sholat. karena keduanya adalah bekal untuk menangani segala urusan.

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

“Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).

Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta’ala berfirman kepada penduduk Surga. “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).

Hanya Allah satu-satunya yang dapat memberi manfaat dan mengangkat bencana ini, maka sembahlah Allah.

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (106) وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (107)

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 106-107).

Karena pada hakekatnya, setiap bencana dan musibah yang menghilangkan adalah Allah semata. Jika ada suatu perkara bisa dihilangkan oleh makhluk dalam perkara yang ia mampu, maka itu hanyalah sebab. Namun hakekatnya Allah yang menakdirkan itu semua dengan izin-Nya.

Doa

Doa adalah senjata terbaik bagi seorang mukmin dalam menghadapi kondisi sulit, karena itu Rasulullah ﷺ memerintahkan dalam haditsnya.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ جَهْدِ البَلاَءِ ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ ، وَسُوءِ القَضَاءِ ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاء )) متفق عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ سُفْيَانُ : أَشُكُّ أَنِّي زِدْتُ وَاحِدَةً مِنْهَا.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda, “Mintalah perlindungan kepada Allah dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang hebat, takdir yang jelek, dan kegembiraan musuh atas kekalahan.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Al-Bukhari, no. 6347 dan Muslim, no. 2707]

Mohonlah pada Allah, karena hanya Allah tempat bergantung dan hanya pada-Nyalah kita memohon pertolongan:

أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا ذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. An Naml: 62).

Akhirnya, mari berdoa.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ البَلاَءِ ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ ، وَسُوءِ القَضَاءِ ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاء

[Allahumma inni a’uudzu bika min jahdil balaa-i wa darokisy syaqoo-i wa suu-il qodhoo-i wa syamaatatil a’daa-i]

“Ya Allah aku meminta perlindugan kepada-Mu dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang hebat, takdir yang jelek, dan kegembiraan musuh atas kekalahan).” Alfaqir ila Robbirrohim.*/ Naser Muhammad


Meredam Wabah dengan Banyak Bersedekah

Bencana Alam menurut Perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah
عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ

Artinya: Dari Anas bin Malik Radhiyallahu `anhu ia berkata,”Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,’Sesungguhnya sedekah benar-benar memadamkan kemurkaan Rabb, dan mencegah kematiaan su’ul khatimah.’” (Riwayat At Tirmidzi [664], dan ia menghasankannya)

Sedekah ketika Bencana di Masa Salaf Shalih

Ketika terjadi bencana gempa bumi, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan rakayatnya agar berkumpul dan melaksanakan shalat serta jika mereka memiliki sesuatu yang bisa disedekahkan untuk menyedekahkannya serta berdoa seperti doa nabi Adam. (Badzl Al Ma’un, hal. 331)

Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,”Maka tidak terlarang melakukan semisalnya ketika terjadi wabah tha’un, karena ada kesamaan di antara keduanya, yakni kedunya merupakan peristiwa menakutkan.” (Badzl Al Ma’un, hal. 332)

Hal yang sama dilakukan oleh para penduduk Samarkand dan Balkh ketika terjadi tha’un, mereka banyak menyedekahkan hartanya. (Badzl Al Ma’aun, hal. 366)

Sedekah di Saat Bencana Sangat Dibutuhkan

Sedangkan bersedekah di masa turunya bencana terasa lebih besar kebutuhannya, karena di waktu itu kebutuhan akan bantuan dan sedekah sangat mendesak.


Meredam Wabah dengan Banyak Bersedekah

عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ

Artinya: Dari Anas bin Malik Radhiyallahu `anhu ia berkata,”Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,’Sesungguhnya sedekah benar-benar memadamkan kemurkaan Rabb, dan mencegah kematiaan su’ul khatimah.’” (Riwayat At Tirmidzi [664], dan ia menghasankannya)

Sedekah ketika Bencana di Masa Salaf Shalih

Ketika terjadi bencana gempa bumi, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan rakayatnya agar berkumpul dan melaksanakan shalat serta jika mereka memiliki sesuatu yang bisa disedekahkan untuk menyedekahkannya serta berdoa seperti doa nabi Adam. (Badzl Al Ma’un, hal. 331)

Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,”Maka tidak terlarang melakukan semisalnya ketika terjadi wabah tha’un, karena ada kesamaan di antara keduanya, yakni kedunya merupakan peristiwa menakutkan.” (Badzl Al Ma’un, hal. 332)

Hal yang sama dilakukan oleh para penduduk Samarkand dan Balkh ketika terjadi tha’un, mereka banyak menyedekahkan hartanya. (Badzl Al Ma’aun, hal. 366)

Sedekah di Saat Bencana Sangat Dibutuhkan

Sedangkan bersedekah di masa turunya bencana terasa lebih besar kebutuhannya, karena di waktu itu kebutuhan akan bantuan dan sedekah sangat mendesak.


Perbanyak Shalawat di Masa Wabah!

عن أبي بن كعب رضي الله عنه قال: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ جَعَلْتُ صَلَاتِي كُلَّهَا عَلَيْكَ؟ قَالَ: “إِذَنْ يَكْفِيَكَ اللهُ مَا أَهَمَّكَ مِنْ دُنْيَاكَ وَآخِرَتِكَ

Artinya: Dari Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu ia berkata,’Wahai Rasulullah, tahukah Anda, jika aku jadikan doaku (doa untuk diri sendiri) semuanya untuk bershalawat kepada Anda? Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,’Maka Allah mencukupkan apa-apa yang menjadi tujuanmu dari duniamu dan akhiratmu. (Riwayat Ahmad [21242], Al Hafidz Al Haitsami berkata,”Diriwayatkan Ahmad dan isnadnya jayyid.” Lihat, Majma` Az Zawa’id (10/247))

Syeikh Ahmad Al Banna As Sa’ati berkata,”Sesungguhnya siapa yang Allah cukupkan tujuannya, maka ia selamat dari ujian-ujian dan fitnah-fitnah dunia.” (Fath Ar Rabbani (13/313)

Banyak Bershalawat ketika Terjadi Wabah dan Bencana Besar

Ibnu Abi Hajlah menyebutkan bahwasannya seorang lelaki shalih menyampaikan bahwasannya banyak bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alahi Wasallam menjadi penangkal paling besar terhadap wabah tha’un dan musibah-musibah besar lainnya. Dan ketika ia menyampaikan hal itu kepada Syeikh Syamsuddin Ibnu Khatib di Yabrud, ia membenarkan akan hal itu, di mana ia menjadikan Hadits Ubay Ka’ab di atas sebagai dalil. (Badzl Al Ma’un, hal. 333)

Ia juga berdalil dengan kisah pencuri onta yang selamat karena bershalawat dalam satu hari seratus kali. Dan Rasulullah Shallallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Engkau selamat dari adzab dunia dan akhirat.” (Diriwayatkan Ibnu Basykuwal, dan As Sakhawi berkata,”Diriwayatkan Ibnu Basykuwal tanpa sanad.” Lihat Al Qaul Al Badi’, hal. 240)

Sesungguhnya shalawat dari Allah merupakan rahmat, sedangkan wabah thaun meski pun ia kesyahidan dan rahmat bagi umat, namun pada asalnua adalah keburukan dan adzab, sedangkan rahmat dan adzab adalah dua hal yang saling bertentangan dan tidak akan bertemu. (Al Qaul Al Badi, hal. 221)

Dalil lainnya, karena orang yang paling banyak shalawat di dunia adalah orang yang paling selamat dari kengerian di hari kiamat. Maka shalawat sebagai penangkal thaun di dunia lebih utama. . (Al Qaul Al Badi, hal. 221)

Hal itu dikarenakan juga bahwa Madinah terbebas dari tha’un dan dajjal, dikarenakan keberkahan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka shalawat juga merupakan pengangkat wabah tha’un. . (Al Qaul Al Badi`, hal. 221)

Menangkal Bala` dengan Doa dan Iman kepada Takdir

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata,”Menangkal baladengan doa seperti menangkal anak panah dengan perisai. Dan bukan merupakan syarat beriman kepada qadha dan qadar dengan tidak membawa anak panah dan tidak berlindung dengan perisai.” (Badzl Al Ma’un, hal. 322)


Doa Agar Seharian Dijaga dari Bencana

عن أبي ذر، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: مَنْ قَالَ فِي دُبُرِ صَلاَةِ الفَجْرِ وَهُوَ ثَانٍ رِجْلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ، كُتِبَتْ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، وَمُحِيَ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ، وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ، وَكَانَ يَوْمَهُ ذَلِكَ كُلَّهُ فِي حِرْزٍ مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ، وَحُرِسَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَلَمْ يَنْبَغِ لِذَنْبٍ أَنْ يُدْرِكَهُ فِي ذَلِكَ اليَوْمِ إِلاَّ الشِّرْكَ بِاللَّهِ

Dari Abu Dzar radhiyallahu `anhu, bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Siapa yang mengatakan di setelah shalat fajar sedangkan ia bersandar kepada kedua kakinya (yakni dalam duduk tasyahud sebelum pergi), sebelum berbicara,’Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, hanya Dia semata, tidak ada baginya sekutu, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala puji, Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia mampu atas segala sesuatu.’ Sepuluh kali, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan, dan dihapuskan darinya sepuluh keburukan, ditinggikan untuknya sepuluh derajat, dan ia di harinya itu semuanya dalam penjagaan dari seluruh perkara yang dibenci (dari bencana-benacana) dan dijaga dari syaitan, dan tidak boleh ada dosa yang ia kerjakan mencelakakannya dan membatalkan amalan-amalannya di hari itu, kecuali syirik kepada Allah.” ( Riwayat At Tirmidzi [2474], dan Ia mengatakan,”Ini adalah Hadits hasan shahih gharib)


Doa-doa untuk Mengangkat Bala atau Musibah

Dengan membaca doa ini, atas izin Allah, kita akan dilindungi dan diproteksi dari musibah yang buruk, penyakit yang sangat membahayakan dan bala

DALAM hadits-hadits Nabi, disebutkan bahwa doa bisa mengangkat bala atau musibah. Berikut ini adalah beberapa doa yang disarikan dari sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Pertama, doa untuk melindungi diri dari penyakit yang membahayakan. Virus corona masuk dalam kategori ini.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ
“Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kulit, gila, lepra, dan dari berbagai penyakit lain yang berbahaya.” (HR. Abu Dawud, Nasa`i, Ahmad dan Ibnu Hibban)

Kedua, dengan membaca doa ini Allah akan mengganti orang yang tertimpa dengan ganti yang lebih baik.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
“Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nya kami dikembalikan. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya.”

Ketiga, ketika doa ini dibaca, maka tidak akan ada yang membahayakannya sedikit pun atas izin Allah.

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan apa saja yang Dia ciptakan.” (HR. Muslim)

Keempat, dengan doa ini akan terselamatkan dari penyakit ‘ain (penyakit yang timbul dari mata kedengkian).

اللهُمَّ أَذْهِبْ عَنْهُ حَرَّهَا، وَبَرْدَهَا، وَوَصَبَهَا
“Ya Allah hilangkanlah panasnya, dinginnya dan sakitnya.” (HR. Ahmad)

Kelima, dengan doa ini bisa dilindungi dari beberapa musibah seperti kesengsaraan, takdir yang buruk dan cacian musuh.

اللهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ جَهْدِ البَلاَءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ القَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari cobaan yang menyulitkan, kesengsaraan yang menderitakan, takdir yang buruk dan cacian musuh.” (HR. Bukhari)

Keenam, doa untuk melindungi diri dari hilangnya nikmat, lepasnya kesehatan, siksaan tiba-tiba dan murka Allah.

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari lepasnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim)

Ketujuh, doa untuk meminta kebaikan dunia-akhirat dan perlindungan diri dari semua kejahatan dan keburukan.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang ditangguhkan (di akhirat), yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang dimohonkan hamba-Mu dan Nabi-Mu kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba-Mu dan Nabi-Mu berlindung darinya kepada-Mu. Ya Allah, sungguh aku memohon surga memohon surga kepada-Mu dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan atau perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan dan perbuatan. Serta aku memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan semua ketentuan yang Engkau tentukan kepadaku sebagai kebaikan.” (HR. Ibnu Majah)

Dengan membaca doa ini, atas izin Allah, kita akan dilindungi dan diproteksi dari musibah yang buruk, penyakit yang sangat membahayakan dan bala.

Penulis jadi ingat pernyataan Ibnu Hajar dalam kitab “Fath Al-Bari” bahwa doa laksana perisai atau tameng dalam perang. Kalau perisai melindungi orang dari tombak dan panah yang dilesatkan. Sementara doa untuk memproteksi diri dari hal buruk yang akan atau sedang menimpa.

SebelumnyaRagam Bacaan Ta’awudz Menurut Imam Qira’at SesudahnyaAdab Pelajar terhadap Diri Sendiri Menurut Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy'ari

Berita Lainnya

0 Komentar