SEKILAS INFO
  • 2 tahun yang lalu / Web resmi PPTQ Al Imam Hafsh sebagai Media untuk memudahkan Santri, Orang Tua Santri, dan Asatidz memperoleh Informasi terkini
  • 2 tahun yang lalu / Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pondok Pesantren Tahfizh Al Qur’an Al Imam Hafsh!!!
WAKTU :

Dalil, Niat dan Hukum Melaksanakan Qadha Puasa Ramadhan di Bulan Syawal

Terbit 27 Mei 2020 | Oleh : admin | Kategori : Fiqih
Dalil, Niat dan Hukum Melaksanakan Qadha Puasa Ramadhan di Bulan Syawal

pptqimamhafsh.com – Puasa Bulan Ramadhan bagi Muslim adalah sebuah kewajiban yang sudah tidak bisa ditawar. Menjalankan puasa Ramadhan akan berpahala disisi Allah dan jika meninggalkannya tanpa Udzur Syar’i akan dikenakan dosa meninggalkan kewajiban.

Akan tetapi secara fitrah, tidak semua umat Islam bisa menjalankan puasa Ramadhan dengan sempurna satu bulan penuh. Halangan alamiah yang tidak bisa dihindari tetap ada dalam kehidupan manusia, contohnya adalah Haid (menstruasi) bagi perempuan, atau sakit menahun.

Dalam Islam, halangan ini disebut dengan Udzur yang bersifat syar’i karena sudah menjadi Qudrah Allah yang tidak bisa dihindari. Berbeda dengan Udzur yang dibuat-buat, bagi mereka dengan Udzur Syar’i tidak mendapatkan dosa selama bisa mengganti puasa Ramadhan dihari lainnya.

Mengganti puasa Ramadhan bisa dilakukan dengan mengQadhanya diluar bulan ramadhan. Qadha puasa Ramadhan bisa dilakukan dibulan syawal atau bulan lainnya setelah Udzur Syar’inya hilang. Berikut Hukum Qadha Puasa Ramadhan dibulan syawal dan bulan lainnya.

Dalil Qadha Puasa
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an tentang ketentuan Qadha Puasa yang ditinggalkan dibulan Ramadhan sebagai berikut;

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (١٨٤

Artinya; “Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Qs. Al-Baqarah: 184)

Kategori yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah di atas, bahwa seorang muslim diperbolehkan untuk tidak berpuasa dalam keadaan tertentu. Seorang Muslim yang seharusnya berpuasa boleh meninggalkan puasa jika ada Udzur Syar’i berupa sakit dan dalam perjalanan yang melelahkan.

Oleh para Ulama, Udzur Syar’i diperbolehkan untuk tidak berpuasa bukan hanya dua faktor di atas. Terdapat 6 golongan orang yang diperbolehkan tidak berpuasa Ramadhan dengan kewajiban mengqadha puasa dihari lainya. 6 golongan tersebut adalah;

يباح الفطر في رمضان لستة للمسافر والمريض والشيخ الهرم أي الكبير الضعيف والحامل ولو من زنا أو شبهة ولو بغير آدمي حيث كان معصوما والعطشان أي حيث لحقه مشقة شديدة لا تحتمل عادة عند الزيادي أو تبيح التيمم عند الرملي ومثله الجائع وللمرضعة ولو مستأجرة أو متبرعة ولو لغير آدمي

Enam golongan orang berikut ini diperbolehkan dalam Islam untuk makan-minum dan tidak puasa di siang hari bulan Ramadhan.

Pertama; musafir, atau orang dalam perjalanan yang jauh melebihi ketentuan syar’i.

Kedua, orang sakit (yang dikhawatirkan sakit bertambah parah jika memaksa untuk berpuasa). Jika hanya sakit ringan dan tidak berpotensi menimbulkan madlarat jika berpuasa maka kewajiban berpuasa tetap ada.

Ketiga, orang tua jompo dan tidak berdaya untuk menahan lapar seharian.

Keempat, wanita hamil walaupun hamilnya disebabkan oleh perbuatan zina atau sejenisnya.

Kelima, Orang yang selalu merasa haus. Golongan ini merujuk kepada orang yang tidak kuat berpuasa karena kondisi badan yang tidak memungkinkan. Jika memaksakan berpuasa akan jatuh pada dehidrasi akut.

Keenam, wanita menyusui baik menyusui anak sendiri atau untuk bekerja dengan gaji atau sukarela. Bahkan Ulama membolehkan wanita tidak berpuasa untuk menyusui hewan yang dimuliakan. Enam golongan ini diperbolehkan untuk tidak berpuasa dibulan ramadhan akan tetapi berkewajiban untuk menggantinya dihari lain.

Kewajiban mengganti atau Qadha Puasa Ramadhan tetap diwajibkan mengingat perintah wajibnya puasa bulan Ramadhan. Orang Haid atau menstruasi tidak masuk kedalam golongan enam ini karena masuk dalam kategori haram puasa ramadhan. Akan tetapi kewajiba Qadha Puasa Ramadhan tetap berlangsung bagi orang Haid setelah mereka suci.

Niat Qadha Puasa Ramadhan
Qadha Puasa Ramadhan hukum wajib sebagaimana puasa Ramadhan. Tidak diperkenankan muslim dengan tanggungan puasa yang belum tertunia menunda sampai ramadhan tahun depan. Maka puasa Ramadhan yang ditinggalkan harus diqadha sebelum Ramadhan tahun depan datang.

Kewajiban Qadha Puasa Ramadhan dibulan lain dalam tata cara pelaksanaanya sama persis dengan puasa Ramadhan. Syaikh Al-Bujairimi dalam kitab Iqna menyebutkan;

ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر

Syarat dalam Qadha Puasa Ramadhan sama dengan Puasa Ramadhan, harus berniat puasa dimalam sebelum puasa dilaksanakan. Tidak sah Qadha Puasa Ramadhan jika tidak berniat pada malam harinya sebagaimana tidak sahnya niat puasa Ramadhan pada pagi hari.

Niat pada malam hari berlaku pula dalam puasa wajib Nadzar. Syarat ini mendasarkan pada Hadits Rasulullah SAW “من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له”- ‘Siapa yang tidak menetapkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Jelas keterangan dzahir hadits bahwa Qadha Puasa Ramadhan disamakan tata caranya dengan puasa Ramadhan itu sendiri.

Sedangkan niat yang perlu diucapkan dalam hati orang yang akan Qadha Puasa Ramadhan menurut para Ulama Syafi’iyah sebagai berikut;

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Transliterasi; “Nawaitu Shauma Ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta’ala”

“Aku berniat Puasa untuk mengqadha (mengganti) Fardhu Puasa Bulan Ramadhan karena Allah SWT”

Mengqadha Puasa di Bulan Syawal

Dasar Al-Qur’an dan Hadits menyebutkan tentang wajibnya mengganti Puasa Ramadhan yang ditinggalkan dibulan lain. Setelah bulan Ramadhan adalah bulan syawal yang mana disunnahkan pula untuk berpuasa 6 hari dibulan tersebut.

Jika seseorang melakukan Qadha Puasa Ramadhan dibulan syawal apakah akan menggugurkan kewajiban dan mendapat keutamaan puasa bulan syawal?

Perlu dipahami bahwa hukum Puasa Syawal dalam Islam adalah sunnah, dengan ketentuan melaksanakannya dalam bulan syawal dimulai tanggal 2 syawal. Tentunya sebelum menjalankan sunnah puasa syawal harus tidak mempunyai tanggungan puasa wajib ramadhan.

Akan tetapi pendapat Syaikh Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan dalam kitab Hasyiyah Al-Bajuri tentang qadha Puasa ramadhan boleh dilakukan dibulan syawal bahkan menerima keutamaannya;

وإن لم يصم رمضان كما نبه عليه بعض المتأخرين والظاهر كما قاله بعضهم حصول السنة بصومها عن قضاء أو نذر

Hukum Puasa Syawal tetap Sunnah, dianjurkan meskipun seseorang tidak berpuasa Ramadhan. Pendapat ini sering diingatkan sebagian ulama muta’akhirin (Kontemporer).

Seseorang tetap mendapatkan keutamaan Puasa Syawal dengan cara ia mengqadha puasa Ramadhan atau melaksanakan puasa Nadzar (untuk memenuhi janji kepada Allah SWT).

Syaikh al-Baijuri memilih bahwa Qadha puasa Ramadhan diperbolehkan dilakukan pada bulan syawal. Bahkan jika dilakukan dalam 6 hari sebagaimana puasa syawal akan mendapatkan keutamaan puasa syawal dan tentunya gugur kewajibannya.

Pendapat paralel diungkapkan oleh Syaikh Nawawi Banten yang menyebutkan bahwa Qadha Puasa Ramadhan boleh dilakukan dibulan syawal dan mendapatkan keutamaannya dengan syarat tertentu;

ومما يتكرر بتكرر السنة ستة من شوال وإن لم يعلم بها أو نفاها أو صامها عن نذر أو نفل آخر أو قضاء عن رمضان أو غيره. نعم لو صام شوالا قضاء عن رمضان وقصد تأخيرها عنه لم يحصل معه فيصومها من القعدة

Artinya; “Puasa 6 hari dibulan syawal adalah puasa yang bersifat tahunan, walaupun orang itu tidak mengetahuinya, atau menyangkalnya (dengan tidak melakukannya), atau malah berpuasa nadzar, berpuasa qadha Ramadhan atau lainnya di bulan Syawal. Tetapi, kalau ia melakukan puasa (Qadha) Ramadhan di bulan Syawal dan ia sengaja menunda enam hari puasa hingga Syawal berlalu, maka ia tidak mendapat keutamaan sunah Syawal. Ia baru mendapat keutamaan puasa syawal ketika berpuasa pada bulan Dzulqa’dah”

Qadha puasa Ramadhan tetap diperbolehkan untuk dilakukan pada bulan syawal walaupun ada perintah untuk puasa sunnah syawal. Hemat penulis, Qadha Puasa Ramadhan adalah wajib, maka kiranya menunaikan ibadah wajib dahulu lebih baik.

Hitungan pahala dan keutamaan puasa didapatkan ketika menunaikan kewajiban, menunjukan sifat rahman dan rahimnya Allah SWT.

Artikel ini telah terbit pertama kali di pecihitam.org dengan judul Qadha Puasa Ramadhan: Dalil, Niat dan Hukum Melaksanakan di Bulan Syawal

SebelumnyaPerintah, Dalil dan Waktu Pelaksanaan Puasa Syawal Sesuai Anjuran Nabi SesudahnyaIni Ibadah Sunah di Bulan Syawal Selain Ibadah Puasa

Berita Lainnya

0 Komentar