SEKILAS INFO
  • 2 tahun yang lalu / Web resmi PPTQ Al Imam Hafsh sebagai Media untuk memudahkan Santri, Orang Tua Santri, dan Asatidz memperoleh Informasi terkini
  • 2 tahun yang lalu / Ahlan wa Sahlan di Website Resmi Pondok Pesantren Tahfizh Al Qur’an Al Imam Hafsh!!!
WAKTU :

Mampukah Kita Membaca Ayat ini dengan Sepenuh Hati?

Terbit 24 Mei 2020 | Oleh : admin | Kategori : Khazanah
Mampukah Kita Membaca Ayat ini dengan Sepenuh Hati?

“إياك نعبد وإياك نستعين”

Hanya kepada-MU aku menyembah, dan Hanya kepada-Mu aku meminta pertolongan

Diceritakan suatu ketika, ada seorang guru memiliki seorang “santri kecil” yang terbiasa membaca (setoran) al-Qur’an kepadanya.

Suatu hari, ia melihat wajah santri kecil itu pucat (kuning wajahnya). Ia pun bertanya tentang kondisi murid tersebut (kepada teman-temannya). Ada yang menceritakan bahwa santri kecil itu telah shalat malam dengan mengkhatamkan seluruh al-Qur’an.

Sang guru pun lalu bertanya kepadanya, “Wahai anakku, saya diberitahu bahwa kamu semalam mengkhatamkan seluruh al-Qur’an dalam shalatmu.”

“Benar, guru.” jawab santri kecil itu.

“Wahai anakku, nanti malam, bayangkanlah wajahku didepanmu sewaktu kamu shalat, lalu bacalah al-Qur’an di hadapanku (dalam sholat) dan janganlah kamu (sampai) lalai.”

“Nggih, ustadz.” Jawab santri kecil

Ketika pagi hari, sang guru bertanya, “Apakah kamu sudah melakukan apa yang aku pesankan?”

“Sudah, ustadz.”

“Apakah kamu mengkhatamkan al-Qur’an?”

“Tidak, aku tak mampu menyelesaikan lebih dari separuh al-Qur’an.”

“Wahai anakku, itu cukup baik.

Nanti malam, hadirkanlah bayangan wajah salah seorang sahabat Rasulillah SAW, mereka adalah orang-orang yang telah mendengarkan Al Quran langsung dari Rasulillah SAW, lalu bacalah al-Qur’an di hadapan mereka dan hati-hatilah, jangan sampai salah.”

“Insyaallah, ustadz. Saya akan lakukan.” jawab santri kecil.

Keesokan harinya, sang guru bertanya lagi, “Apakah kamu sudah melakukan apa yang aku pesankan?”

Santri kecil itu menjawab, “Saya tak mampu membaca lebih dari seperempat al-Qur’an.”

“Baiklah, nanti malam, kamu bayangkan wajah Rasulullah saw yang telah menerima wahyu al-Qur’an itu dan sadarlah di depan siapa kamu sedang membaca.”

“Baik, guru.”

Keesokan harinya, ketika sang guru bertanya, santri kecil itu menjawab, “Aku tak mampu membaca lebih dari satu juz saja atau sekitar itu.”

“Wahai anakku, nanti malam kamu bayangkan wajah Malaikat Jibril yang telah mendiktekan al-Qur’an kepada Rasulullah, bacalah di depannya dan sadarlah di depan siapa kamu sedang membaca.”

“Baik, guru.”

Keesokan harinya, ketika sang guru bertanya, santri kecil itu menjawab, “Saya tidak mampu membaca lebih dari beberapa ayat saja.” sambil menyebutkan ayat-ayat al-Qur’an yang ia baca.

“Wahai anakku, malam nanti bertaubatlah kepada Allah dan menunduklah. Ketahuilah bahwa orang yang sedang shalat itu adalah orang yang sedang berduaan dengan Tuhannya. Renungkanlah apa yang kamu baca. Yang terpenting bukan memperbanyak bacaan, tapi tadabbur-lah (hayatilah) ayat-ayat yang kamu baca. Jangan sampai kamu lalai.”

Keesokan harinya, sang guru itu tidak menemui santri kecil tersebut. Ada yang mengatakan bahwa ia sedang sakit. Lalu sang guru menjenguknya. Ketika melihat wajah ustadznya, santri kecil itu menangis sambil berkata:

“Wahai guruku, semoga Allah SWT membalas Anda dengan kebaikan. Aku belum pernah menyadari bahwa aku telah berbohong kecuali semalam tadi. Semalam aku telah membayangkan wajah Allah SWT dalam shalatku, lalu aku pun merasa berat ketika membaca Al Quran di depan-Nya, aku tidak bisa menyelesaikan surat Al Fatihah kecuali hanya sampai ayat “Maliki Yaumiddin” saja.

Ketika aku hendak membaca ayat “Iyyaka na’budu” (hanya kepadaMu aku menyembah), aku merasa sangat malu. Aku merasa telah berdusta di hadapan Allah. Aku mengaku hanya menyembah-Nya saja, tapi kenyataannya aku masih lalai dalam menyembah-Nya. Aku (pun) tidak bisa ruku’ sampai terbit fajar. Aku takut menghadap Allah dalam keadaan yang tidak aku sukai ini.”

Tiga hari kemudian, murid tersebut meninggal dunia (karena sakit yang dideritanya).

Ketika dimakamkan, sang guru (pun) lalu mengunjungi kuburannya, kemudian sang guru bertanya (di dalam hati) tentang keadaan santri kecil di sana. Tiba-tiba ia mendengar suara santri kecil itu dari bawah kuburan..

“Wahai guruku, saya sedang “hidup” di sisi “Sang Maha Hidup”. Dia tidak menghisabku sedikit pun.”

Kemudian sang guru itu pulang ke rumahnya dalam keadaan sakit, ia terbaring di atas ranjang akibat melihat kejadian itu. Tak lama kemudian, ia pun meninggal dunia menyusul santri kecil.

Syaikh Ibnu Arabi berkata, “Barangsiapa membaca ayat “iyyaka na’budu” seperti bacaan pemuda itu, ia telah benar-benar membacanya.”

Sumber: Kitab Al Futuhat Al Makkiyah- Ibnu ‘Arabiy

SebelumnyaBolehkah Belajar Membaca Al-Quran Melalui Youtube? SesudahnyaPuasa Syawal, Lafal Niat dan Ketentuan Waktunya

Berita Lainnya

0 Komentar